Satu Rindu
15.1.10 by Zaza in Label:

Awalnya, dia adalah sosok yang begitu asing bagiku. Aku sama sekali tak mengenalnya dan memang baru pertama kali bertemu dengannya. Namun, di pertemuan pertama itulah aku tahu, ada yang salah dengan hatiku. Perasaanku mengatakan bahwa aku begitu mengenalnya. Seolah aku dan dia telah lama mengenal. Disisi lain, logikaku mengatakan agar aku tak memikirkan apa yang aku rasakan. Ketika aku harus memilih diantaranya, maka logika lah yang pada akhirnya menjadi pemenang.

Seiring dengan berjalannya waktu, maka aku pun harus melanjutkan kehidupanku. Tanpa terlalu peduli dengan apa yang terjadi atau apa yang sedang dia lakukan. Sungguh, apa yang aku lakukan begitu bertentangan dengan apa yang hatiku inginkan. Hatiku begitu peduli dengan keberadaanya dan begitu mendambakan kehadirannya disampingku.

Tapi entah mengapa, terkadang untuk tersenyum hangat padanya saja begitu sulit ku lakukan, apalagi aku harus berbicara banyak hal padanya. Yang kulakukan ketika bertemu dengannya hanyalah tersenyum kaku sambil berjalan lalu. Dengan hati yang sibuk membodohi diriku atas sikap yang baru saja ku lakukan.

"Bodoh, kenapa gak lo sapa dia! Tanya mau kemana! Paling gak, sebut namanya kek. Buat dia tau kalo lo peduli. Payah lo! Gitu aja gengsi, sekarang lo nyesel kan! Makan tuh gengsi...!"

Perlahan, kebekuan antara aku dan dia mulai sedikit mencair. Kami saling tersenyum dan menyapa bila bertemu. Memang, belum ada banyak perbincangan yang kami jalin. Alasannya, karena aku tak punya bahan obrolan yang menarik untuk dibicarakan. Jadi, aku hanya menunggu hingga mungkin dia yang akan memulainya. Jika tidak, kami hanya berlalu dalam diam dan otakku sibuk memikirkan banyak hal, diantaranya tentu saja tentang dirinya.

Aku senang sedikit-sedikit hubungan kami mulai menghangat. Memberi hatiku sedikit kepercayaan untuk bersandar padanya. Tetapi, ada hal yang begitu membuatku iri. Sikapnya ternyata begitu hangat dan ramah pada temanku yang lainnya. Aku bertanya-tanya, kenapa ia begitu dingin terhadapku? Hatiku menyankan agar aku berkaca. Dan aku tahu, bahwa mungkin yang bersikap dingin itu aku. Tapi memang begitulah aku...

Saat yang tak menyenangkan datang. Aku sakit di saat yang tidak tepat. Untuk itu, aku harus mengurangi rutinitasku untuk menyembuhkan penyakitku. Yang mengakibatkan, aku semakin jarang bertemu dengannya. Aku benar-banar jarang melihatnya, mendengar suaranya, atau kehadirannya yang membuat teman-temanku khawatir. Aku malu untuk bertanya pada temanku tentang keberadaanya. Aku tak ingin mereka tahu bahwa aku peduli dan merindukannya.

Hingga kabar yang ku dengar adalah dia sudah pergi. Dia tak akan ada lagi dalam lingkunganku. Yang membuatku tak bisa lagi bertemu dengannya. Saat itu, hatiku begitu hancur melihat kenyataan tersebut. Dia memang benar telah pergi, tanpa tahu bahwa aku peduli padanya....

Yang kusesali adalah aku tak melihat kepergianya. Aku tak memanfaatkan waktu yang ku punya dulu agar aku dekat dengannya. Bahwa dia pergi ketika hatiku mulai yakin untuk menyandarkan hatiku di hatinya. Ketika perasanku hendak meraba ke dalam hatinya. Saat kehangatan diantara kami mulai terjalin.

Penyesalanku tak ada gunanya. Hal itu tak mengembalikan dirinya di hadapanku. Hingga perlahan, aku mulai berfikir untuk melupakannya. Membiarkan aku hanya ditemai dengan kenangan tentangnya. Kala diam-diam aku menyimaknya dari tempatku bersembunyi. Mendengarkan apa yang mungkin ia ucapkan. Dan memperhatikan semua kebiasaannya.

Kini, setelah lama ia pergi. Aku merindukan sosoknya. Tapi aku tahu, rindu ini tak akan pernah terobati...

Posting Komentar