Aku Lupa Titipkan Pada Allah
12.5.10 by Zaza in Label:

Mungkin ada benarnya juga, sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa: "semakin banyak kita memiliki, maka akan semakin banyak juga kita kehilangan". Tapi itu bukan berarti kita tidak perlu memiliki sesuatu agar kita tak kehilangan semua yang kita miliki.

Yang terjadi pada diriku, belakangan ini adalah kecerobohan yang berakibat fatal. Dalam jangka waktu yang sempit, aku sudah menghilangkan banyak barang. Baik barang milikku, milik orang lain bahkan sampai data peserta pun tak sengaja aku hilangkan.

Ya Allah, ada apa?

Apakah karena aku lupa menitipkannya padamu? Apakah aku sudah terlalu angkuh untuk merasa memiliki semua itu? Sementara diriku saja sebenarnya adalah milikmu...Tak ada satupun yang aku miliki, kecuali Engkau yang menitipkannya padaku. Maka ketika aku sedang tidak memakai barang-barang itu, harusnya aku titipkan itu semua pada-Mu kembali.

Kini, ketika Kau kembali ambil apa yang Kau titipkan, maka aku hanya mencoba untuk ikhlas. Tidak mudah memang, tapi aku mau untuk mencoba dan mau untuk belajar. Aku berharap, itu semua menjadikan diriku mengingat kembali siapa aku dan keberadaanku. Ya Allah, semoga Engkau mengganti itu semua dengan yang lebih baik. Semoga Engkau jadikan itu sebagai penggugur dosa-dosaku.Amin...


Kisah 4 Lilin
9.5.10 by Zaza in Label:

Ada 4 lilin yang menyala, sedikit demi sedikt meleleh. Suasana begitu sunyi sehingga terdengarlah percakapan antar mereka.

Yang pertama berkata : "aku adalah lilin kedamaian. Namun manusia tidak mampu menjagaku, maka lebih baik aku mematikan diriku saja!". Demikianlah sedikit demi sedikit sang lilin padam.
Rata Penuh
Yang kedua berkata : "aku adalah lilin keyakinan. Sayang aku tidak berguna lagi, manusia tidak mau mengenalku, untuk itulah tidak ada gunanya aku tetap menyala." Begitu selesai bicara tiupan angin memadamkannya.

Dengan sedih lilin ke tiga bicara : "aku lilin cinta" tidak mampu lagi aku untuk tetap menyala, manusia tidak lagi memandang dan mengganggapku berguna. Mereka saling membenci, bahkan membenci mereka yang mencintai, membenci keluarganya." Tanpa menunggu waktu lama, maka matilah lilin ketiga.

Tanpa terduga....

Seorang anak saat itu masuk ke dalam kamar, dan melihat ketiga lilin telah padam. Karena takut akan kegelapan itu, ia berkata"apa yang terjadi? Kalian harus tetap menyala, aku takut akan kegelapan!"

Lalu ia menangis tersedu sedu. Lalu dengan terharu lilin ke empat berkata: "jangan takut, janganlah menagis, selama aku masih ada dan menyala kita tetap dapat selalu menyalakan ketiga lilin lainnya" akulah lilin "harapan".

Dengan mata bersinar, sang anak mengambil lilin harapan lalu menyalakan kembali ketiga lilin lainnya.

Apa yang tidak pernah mati adalah HARAPAN yang ada dalam hati kita dan masing masing kita semoga dapat menjadi alat. Seperti anak tersebut, yang dalam situasi apapun mampu menghidupkan kembali keyakinan kedamaian dan cinta dengan harapannya.

Sumber: http://ceritaberhikmah.blogspot.com/

Garam dan Telaga
by Zaza in Label:

Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Tamu itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia.

Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yang bijak, hanya mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan. "Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya..", ujar Pak tua itu.

"Pahit. Pahit sekali", jawab sang tamu, sambil meludah kesamping. Pak Tua itu, sedikit tersenyum. Ia, lalu mengajak tamunya ini, untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu. Pak Tua itu, lalu kembali menaburkan segenggam garam, ke dalam telaga itu.

Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan telaga itu. "Coba, ambil air dari telaga ini, dan minumlah. Saat tamu itu selesai mereguk air itu, Pak Tua berkata lagi, "Bagaimana rasanya?". "Segar.", sahut tamunya. "Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?", tanya Pak Tua lagi. "Tidak", jawab si anak muda.

Dengan bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu. "Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama.

"Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya.

Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu." Pak Tua itu lalu kembali memberikan nasehat. "Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan."

Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar hari itu. Dan Pak Tua, si orang bijak itu, kembali menyimpan "segenggam garam", untuk anak muda yang lain, yang sering datang padanya membawa keresahan jiwa

Sumber: http://www.halaqah-online.com/v3/index.php?option=com_content&view=article&id=488:cerita-berhikmah-renungkan&catid=34:cerpen-a-cerita&Itemid=85

Tentang Cinta
by Zaza in Label:

Oleh Anis Matta, Lc
Diambil dari: akuyaku.wordpress.com


Jika kita mencintai seseorang, kita akan senantiasa mendo’akannya walaupun dia tidak berada disisi kita.


Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karen Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta …

Jangan sesekali mengucapkan selamat tinggal jika kamu masih mau mencoba. Jangan sesekali menyerah jika kamu masih merasa sanggup. Jangan sesekali mengatakan kamu tidak mencintainya lagi, jika kamu masih tidak dapat melupakannya.

Cinta datang kepada orang yang masih mempunyai harapan, walaupun mereka telah dikecewakan. Kepada mereka yang masih percaya, walaupun mereka telah dikhianati. Kepada mereka yang masih ingin mencintai, walaupun mereka telah disakiti sebelumnya. Dan kepada mereka yang mempunyai keberanian dan keyakinan untuk membangunkan kembali kepercayaan.

Jangan simpan kata-kata cinta pada orang yang tersayang sehingga dia meninggal dunia lantaran akhirnya kamu terpaksa catatkan kata-kata cinta itu pada pusaranya. Sebaliknya ucapkan kata-kata cinta yang tersimpan dibenakmu itu sekarang selagi ada hayatnya.

Mungkin Tuhan menginginkan kita bertemu dan bercinta dengan orang yang salah sebelum bertemu dengan orang yang tepat, kita harus mengerti bagaimana berterimakasih atas karunia tersebut.

Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat dan kemarahan menjadi rahmat.

Sungguh menyakitkan mencintai seseorang yang tidak mencintaimu, tetapi lebih menyakitkan adalah mencintai seseorang dan kamu tidak pernah memiliki keberanian untuk menyatakan cintamu kepadanya.

Seandainya kamu ingin mencintai atau memiliki hati seorang gadis, ibaratkanlah seperti menyunting sekuntum mawar merah. Kadangkala kamu mencium harum mawar tersebut, tetapi kadangkala kamu terasa bisa duri mawar itu menusuk jari.

Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika kamu bertemu seseorang yang sangat berarti bagimu, hanya untuk menemukan bahwa pada akhirnya menjadi tidak berarti dan kamu harus membiarkannya pergi.

Kadangkala kamu tidak menghargai orang yang mencintai kamu sepenuh hati, sehingga kamu kehilangannya. Pada saat itu, tiada guna penyesalan karena perginya tanpa berkata lagi.

Cintailah seseorang itu atas dasar siapa dia sekarang dan bukan siapa dia sebelumnya. Kisah silam tidak perlu diungkit lagi, kiranya kamu benar-benar mencintainya setulus hati.

Hati-hati dengan cinta, karena cinta juga dapat membuat orang sehat menjadi sakit, orang gemuk menjadi kurus, orang normal menjadi gila, orang kaya menjadi miskin, raja menjadi budak, jika cintanya itu disambut oleh para pecinta PALSU.

Kemungkinan apa yang kamu sayangi atau cintai tersimpan keburukan di dalamnya dan kemungkinan apa yang kamu benci tersimpan kebaikan didalamnya.

Cinta kepada harta artinya bakhil, cinta kepada perempuan artinya alam, cinta kepada diri artinya bijaksana, cinta kepada mati artinya hidup dan cinta kepada Tuhan artinya Takwa.

Lemparkan seorang yang bahagia dalam bercinta kedalam laut, pasti ia akan membawa seekor ikan. Lemparkan pula seorang yang gagal dalam bercinta ke dalam gudang roti, pasti ia akan mati kelaparan.

Seandainya kamu dapat berbicara dalam semua bahasa manusia dan alam, tetapi tidak mempunyai perasaan cinta dan kasih, dirimu tak ubah seperti gong yang bergaung atau sekedar canang yang gemericing.

Cinta adalah keabadian… dan kenangan adalah hal terindah yang pernah dimiliki.

Siapapun pandai menghayati cinta, tapi tak seorangpun pandai menilai cinta karena cinta bukanlah suatu objek yang bisa dilihat oleh kasat mata, sebaliknya cinta hanya dapat dirasakan melalui hati dan perasaan.

Cinta mampu melunakkan besi, menghancurkan batu, membangkitkan yang mati dan meniupkan kehidupan padanya serta membuat budak menjadi pemimpin. Inilah dahsyatnya cinta.

Cinta sebenarnya adalah membiarkan orang yang kamu cintai menjadi dirinya sendiri dan tidak merubahnya menjadi gambaran yang kamu inginkan. Jika tidak, kamu hanya mencintai pantulan diri sendiri yang kamu temukan didalam dirinya.

Kamu tidak akan pernah tahu bila kamu akan jatuh cinta. Namun apabila sampai saatnya itu, raihlah dengan kedua tanganmu dan jangan biarkan dia pergi dengan sejuta rasa tanda tanya dihatinya.

Cinta bukanlah kata murah dan lumrah dituturkan dari mulut kemulut tetapi cinta adalah anugerah Tuhan yang indah dan suci jika manusia dapat menilai kesuciannya.

Bercinta memang mudah, untuk dicintai juga memang mudah. Tapi untuk dicintai oleh orang yang kita cintai itulah yang sukar diperoleh.

Jika saja kehadiran cinta sekedar untuk mengecewakan, lebih baik cinta itu tak pernah hadir.

On The Way
8.5.10 by Zaza in Label:

Ilmu dan pengetahuan tidak hanya di dapat di bangku sekolah. Urgensi dari pembelajaran lebih dari sekedar ijazah dan title yang tertera di belakang sebuah nama. Pendidikan jangan di artikan sebagai pelajaran teks book yang diberikan guru kepada muridnya, atau dosen kepada mahasiswanya.

Setidaknya, itulah yang selalu aku tanamkan pada diriku. Bagiku, belajar dan segala proses yang teribat di dalamnya adalah sebuah simfoni yang indah. Belajar bisa di lakukan di mana saja, kapan saja, dan dari siapa saja. Ibrah atau hikmah bisa di ambil dari setiap kejadian yang terjadi.

Dari perjalanan yang ku tempuh, aku belajar banyak hal. Tentang aku dan penumpang lainnya yang berada di angkot. Tentang supir dan para calo terminal. Tentang pedagang asongan dan pengamen jalanan dari berbagai jenjang umur.

Penumpang: Maunya naik angkot yang langsung jalan. Ya iyalah...Akhirnya, gak sedikit penumpang yang ngeloyor pergi ketika para calo maksa naik angkot yang dipromosikannya. Udah gitu, biasanya banyak juga nih pelajar yang mengurangi jumlah ongkosnya. Bilangnya sih "belakang bang...", padahal di belakangnya gak ada siapa-siapa gitu. Haduh...Udah gitu, dari pelajar sampe pekerja, kalau bayar ongkos maunya murah melulu...Padahal harga bensin udah selangit!

Supir angkot: Dengan egoisnya sambil mengatasnamakan 'mencari nafkah' bang sopir itu, hobinya ngetem. Di setiap perempatan, pengkolan, bahkan setiap gang, hobi banget ngerem mendadak kalau nemu penumpang. Padahal itu orang yang keliatan baru bayangannya doang...Lebay! Trus, kalau kembalian ongkos sering dikurang-kurangin lagi...Fhuih!

Calo: Maksa banget kalau nyuruh naik angkot kepada orang yang lewat. Kalau di gelengin, malah promosi makin gencar. "Langsung berangkat neng, berangkat...". Kalau di bilang "enggak bang", malah nanya-nanya mau kemana. Kalau di senyumin sambil melambaikan tangan mengisyaratkan tidak, malah digodain. Huh, emang gak jelas maunya apa...Sering ngebo`ongin penumpang lagi, pura-puranya jadi penumpang biar angkotnya kelihatan penuh...

Pengamen: Gonjrang-gonjreng di pintu angkot dengan suara yang kebanyakan pas-pasan merupakan kegiatan yang tak terlewati, terlebih jika penumpang angkotnya udah penuh. Menyanyikan satu sampai dua lagu kemudian membalikkan topi dan mulai mengabsen penumpang di dalamnya. Setelah itu, turun dari angkot dengan cara yang sedikit nekat. Bgeitulah rutinitas pengamen jalanan, bukan sesuatu yang buruk.

Untuk pengendara di jalan raya: Gunakan akal sehat kalian dalam mengemudi. Jujur, beberapa kali saya merasa terancam dengan gaya mengemudi kalian semua. Anda tidak hidup untuk diri anda sendiri saja, bung...


selalu ada hikmah di setiap langkah yang kita tempuh...