aku hanya ingin mengatakan sesuatu
untuk seseorang ikhwah di sana
bahwa jalan dakwah itu tak pernah lurus
selalu ada lika-liku yang menghadangnya
untuk itu, jangan menyerah sampai di sini
jangan berhenti sekarang, karena
hanya orang-orang yang merindukan surga
yang tetap bertahan
coba lihatlah dari kaca mata yang lain
bahwa jalan yang berliku itu indah
bahwa jalan yang tak lurus itu menantang
bahwa di jalan dakwah inilah tempat kita berpijak
saudaraku, antum ga sendiri
selalu ada kami yang berdiri di belakangmu...
because nothing is impossible
nothing is certain, only one. move. smile. gratitude. Allah together.
Satu Senyum Saja
_zaza_
Bukan Akhir....
_zaza_
Other Web:
About Yesterday
Masa lalu akan selalu ada, namun keberadaanya bukan untuk sekedar disesali. Mungkin, ia adalah sebuah kenangan manis yang suatu waktu nanti tak sengaja terlupakan. sebuah catatan, akan selalu mampu menghadirkan kenangan-kenangan itu...
karna masa lalu lah yang memberitahumu, bahwa kamu pernah ada... _izzath_
Pencari Jejak
About Me
- Zaza
- jangan nilai aku dengan apa yang terlihat, tapi kenal lah aku dan kau akan tahu siapa aku...
Tik.tik.tik
Think...
^
Feedjit
Hatiku yang akhir-akhir ini memprotes karena desakan perasaan yang begitu menekan, tak juga aku hiraukan. Selalu kucoba untuk tersenyum sementara hati miris menahan jemu. Walaupun aku tahu, terkadang akupun ingin mendengar apa yang di ungkapkan oleh hatiku. Maka aku ingin meminta maaf karena mungkin aku terlihat begitu munafik.
Aku pun mengingkari protes hatiku, yang menyuruhku agar aku mengistirahatkan badanku sejenak. Tapi aku tak bisa, aku harus segera berjalan kembali. Menyelesaikan tugas-tugas yang terasa begitu memberatkan kedua pundakku. Maka aku ingin meminta maaf karena mungkin aku terlihat begitu munafik.
Lagi-lagi aku tak mendengarkan protes hatiku, yang memintaku untuk sekali saja memikirkan diriku sendiri. Tanpa harus mengorbankan segalanya untuk orang lain. Bahkan mereka yang kerap kali mengcewakanku. Maka aku hanya ingin meminta maaf karena mungkin aku terlihat begitu munafik.
"Jangan terus memahami, kamu juga butuh di pahami..."
Kalau anda menemukan uang beberapa rupiah saja, di saat kantung anda sedang kritis, sepertinya itu bisa di katakan sebuah anugrah. Atau ketika anda mendapati seseorang yang begitu anda rindukan, telah berada di rumah ketika anda pulang, itu juga anugrah bukan? Begitu juga dengan sebuah senyum di saat anda sedang merasa begitu gelisah, lelah, takut, atau lainnya.
Dia, seseorang yang membuatku tersenyum, aku hanya ingin bilang: Jazakillah, syukron jiddan...
Senyum kali ini terasa berbeda, karena ia ada di saat aku begitu merasa lelah, penat, suntuk, dan njelimet dengan tugas dan rutinitas kuliah yang cukup padat. Senyum kali ini hadir, ketika aku memang butuh sebuah hiburan. Senyum kali ini hadir ketika wajahku hampir menyaingi kusutnya benang jahit.
Aku harap, akan masih ada senyum lainnya yang kan menghiasi hari-hariku...
Tapi keadaan saat itu tak sesederhana yang dibayangkan. Meskipun aku mengerti, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Dengan bodohnya aku hanya terpaku sambil menonton kejadian itu. Diam membisu karena bingung apa yang sebenarnya harus kuperbuat. Jadi, aku hanya diam hingga semua kejadian itu berlalu.
Sampai saat ini pun, aku hanya diam saja. Tak berani bertanya, enggan untuk mencari tahu lebih lanjut. Aku bukannya tidak peduli, tapi ini tentang perasaan, tentang hati. Karena itulah, aku, dia atau mereka, tak pernah menganggap hal ini adalah masalah yang sederhana.
Kalau dia merasa aku begitu bodoh karena aku tak membelanya, aku minta maaf. Aku hanya mencoba bersikap adil. Aku hanya tak mau terlalu mencampuri urusan orang lain. Aku tak ingin membuatnya tersinggung. Dan aku masih menunggunya bila ia mau bercerita padaku. Suatu saat nanti...