Jalan Yang Berliku...
17.4.10 by Zaza in Label:

aku hanya ingin mengatakan sesuatu
untuk seseorang ikhwah di sana
bahwa jalan dakwah itu tak pernah lurus
selalu ada lika-liku yang menghadangnya

untuk itu, jangan menyerah sampai di sini
jangan berhenti sekarang, karena
hanya orang-orang yang merindukan surga
yang tetap bertahan

coba lihatlah dari kaca mata yang lain
bahwa jalan yang berliku itu indah
bahwa jalan yang tak lurus itu menantang
bahwa di jalan dakwah inilah tempat kita berpijak

saudaraku, antum ga sendiri
selalu ada kami yang berdiri di belakangmu...

Mengingkari Hati
8.3.10 by Zaza in Label:

Itulah aku. seseorang yang sering kali tak pernah jujur pada hatinya. Yang terlalu memikirkan ego sendiri atau perasaan orang lain. Yang pada akhirnya kerap kali dikecewakan oleh segala hal yang terjadi.

Hatiku yang akhir-akhir ini memprotes karena desakan perasaan yang begitu menekan, tak juga aku hiraukan. Selalu kucoba untuk tersenyum sementara hati miris menahan jemu. Walaupun aku tahu, terkadang akupun ingin mendengar apa yang di ungkapkan oleh hatiku. Maka aku ingin meminta maaf karena mungkin aku terlihat begitu munafik.

Aku pun mengingkari protes hatiku, yang menyuruhku agar aku mengistirahatkan badanku sejenak. Tapi aku tak bisa, aku harus segera berjalan kembali. Menyelesaikan tugas-tugas yang terasa begitu memberatkan kedua pundakku. Maka aku ingin meminta maaf karena mungkin aku terlihat begitu munafik.

Lagi-lagi aku tak mendengarkan protes hatiku, yang memintaku untuk sekali saja memikirkan diriku sendiri. Tanpa harus mengorbankan segalanya untuk orang lain. Bahkan mereka yang kerap kali mengcewakanku. Maka aku hanya ingin meminta maaf karena mungkin aku terlihat begitu munafik.

Protes hatiku saat ini adalah:
"Jangan terus memahami, kamu juga butuh di pahami..."

Renungan di Penghujung Hari
6.3.10 by Zaza in Label:

"Segala sesuatu bisa terjadi. Aku sendiri yang menjadi bukti dari ketidakmungkinan itu. Apa yang ku dapat mungkin hal yang mustahil bagi orang lain, tapi aku telah membuktikannya. Aku bisa. Dan itu bukanlah sekedar mimpi semata."
Kalimat itu yang dikatakannya kepadaku. Dengan semangat dia menceritakan dirinya. Lalu memberiku motivasi agar aku bisa lebih baik darinya. Dan memang, dia menjadi inspirasiku untuk memperbaiki kesalahan-kesalahanku yang lalu.
"Kita harus menepati apa yang sudah kita janjikan. Kita tidak sama dengan mereka. Kita bekerja dengan nurani, dan bukan untuk menipu. Sebuah kesalahan yang kita anggap kecil, akan menjadi masalah besar bila kita membiarkannya. Maka dari itu, lakukan saja apa yang kita janjikan..."
Dia orang yang berbeda, di hari yang berbeda, dan dengan tujuan yang berbeda. Tapi aku tahu apa yang dikatakannya itu benar. Bukan untuk mencari prestise di mata orang lain, tapi ini adalah sebuah janji.
"Coba deh sekali-kali pandanglah sesuatu jangan hanya dari sudut pandang kita. Apa yang kita pandang akan selalu salah, tapi ada sesuatu yang bernilai benar jika kamu berhasil menemukan celah untuk melihatnya."
Tentang sesuatu yang sedikit mengkhawatirkan. Aku ingin melakukan tindakan untuk menghentikannya. Tapi aku tak tahu bagaimana caranya dan apa yang harus aku lakukan. Maka aku hanya berharap, mereka memandang itu sebagai sesuatu yang baik.


Untuk kata-kata yang membuatku berfikir di penghujung hariku...

Dia Membuatku Tersenyum
1.3.10 by Zaza in Label:

Kalau anda menemukan uang beberapa rupiah saja, di saat kantung anda sedang kritis, sepertinya itu bisa di katakan sebuah anugrah. Atau ketika anda mendapati seseorang yang begitu anda rindukan, telah berada di rumah ketika anda pulang, itu juga anugrah bukan? Begitu juga dengan sebuah senyum di saat anda sedang merasa begitu gelisah, lelah, takut, atau lainnya.

Dia, seseorang yang membuatku tersenyum, aku hanya ingin bilang: Jazakillah, syukron jiddan...

Senyum kali ini terasa berbeda, karena ia ada di saat aku begitu merasa lelah, penat, suntuk, dan njelimet dengan tugas dan rutinitas kuliah yang cukup padat. Senyum kali ini hadir, ketika aku memang butuh sebuah hiburan. Senyum kali ini hadir ketika wajahku hampir menyaingi kusutnya benang jahit.

Aku harap, akan masih ada senyum lainnya yang kan menghiasi hari-hariku...

Aku Tahu, Tapi Aku Hanya Diam
21.2.10 by Zaza in Label:

Banyak hal yang kurasakan saat itu. Semuanya bercampur aduk di dalam hati. Mungkin aku bisa dikatakan bahwa aku mengerti dengan apa yang sedang terjadi. Yah, tapi memang aku tidak pernah mengalami hal yang baru saja kulihat. Dan aku berharap aku tak pernah mengalaminya walau hanya sekali. Cukup dia saja yang membuatku belajar dari pengalamannya.

Tapi keadaan saat itu tak sesederhana yang dibayangkan. Meskipun aku mengerti, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Dengan bodohnya aku hanya terpaku sambil menonton kejadian itu. Diam membisu karena bingung apa yang sebenarnya harus kuperbuat. Jadi, aku hanya diam hingga semua kejadian itu berlalu.

Sampai saat ini pun, aku hanya diam saja. Tak berani bertanya, enggan untuk mencari tahu lebih lanjut. Aku bukannya tidak peduli, tapi ini tentang perasaan, tentang hati. Karena itulah, aku, dia atau mereka, tak pernah menganggap hal ini adalah masalah yang sederhana.

Kalau dia merasa aku begitu bodoh karena aku tak membelanya, aku minta maaf. Aku hanya mencoba bersikap adil. Aku hanya tak mau terlalu mencampuri urusan orang lain. Aku tak ingin membuatnya tersinggung. Dan aku masih menunggunya bila ia mau bercerita padaku. Suatu saat nanti...